Oleh: Dr. Hj. Fadlilah, M.Pd.
Setiap Ramadhan datang, kita seperti “murid lama” yang kembali memasuki kelas kehidupan. Materinya selalu sama: menahan diri. Namun setiap tahun pelajarannya terasa berbeda, tergantung seberapa siap kita belajar. Ada yang sejak awal sudah diuji kesabarannya, ada pula yang baru benar-benar merasa ditempa menjelang lebaran.
Dalam perspektif nurani, Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi sebagai ruang refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan sesama dan alam. Di titik inilah Ramadhan bersentuhan dengan ekoteologi—bahwa tanggung jawab ekologis lahir dari kesadaran iman.
Puasa kerap dipahami sebatas menahan lapar dan haus. Padahal yang lebih berat adalah menahan emosi, menahan komentar spontan, dan menahan dorongan untuk selalu benar. Al-Qur’an menegaskan, “Diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Kata tattaqūn menunjukkan bahwa tujuan puasa adalah kualitas batin. Taqwa tidak selalu tampak dan tidak bisa diawasi manusia. Seseorang bisa saja membatalkan puasanya secara sembunyi tanpa diketahui siapa pun. Namun di situlah letak pendidikan nuraninya: puasa menjadi ibadah yang kejujurannya hanya diketahui oleh pelakunya dan Allah.
Pengalaman itu membawa saya pada kenangan masa kecil. Ayah menjanjikan imbalan uang jika kami berhasil berpuasa penuh. Bagi anak-anak, itu motivasi yang luar biasa. Imbalan memang menjadi pintu awal. Namun seiring waktu, makna puasa berubah—dari sekadar menunggu hadiah menjadi latihan kesadaran. Pendidikan hati nurani memang bekerja bertahap.
Pengalaman serupa saya terapkan kepada puteri saya, dengan pendekatan yang lebih dialogis. Dari situ saya belajar bahwa pendidikan nurani lintas generasi sangat bergantung pada keteladanan. Puasa bukan sekadar kewajiban, tetapi proses membentuk integritas batin.
Hari ini puasa bahkan dipopulerkan dalam berbagai versi kesehatan: one meal a day (OMAD), ketok, intermittent fasting, dan sejenisnya. Namun yang membedakan puasa Ramadhan dari metode lain adalah dimensi nuraninya. Ia tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menata orientasi hidup.
Di sinilah Ramadhan bertemu dengan ekoteologi sebagaimana dirumuskan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Ekoteologi menegaskan bahwa relasi manusia dengan Tuhan tidak boleh terputus dari relasinya dengan alam. Manusia adalah khalifah—penjaga bumi, bukan penguasa yang bebas menghabiskan.
Jika puasa melatih kita menahan lapar, sejatinya ia juga melatih kita menahan rakus. Rakus dalam konsumsi, rakus dalam eksploitasi, dan rakus dalam membuang tanpa pertimbangan. Perspektif nurani menuntun kita bertanya: apakah ibadah kita semakin mendekatkan diri pada kesederhanaan, atau justru memperbesar jejak kerusakan yang kita tinggalkan?
Kita sering menyaksikan ironi: meja berbuka berlimpah, tetapi sampah meningkat; ritual hidup, tetapi kesadaran ekologis tertinggal. Ekoteologi mengingatkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar isu lingkungan, melainkan konsekuensi iman. Tanpa nurani yang hidup, ajakan merawat alam hanya menjadi slogan. Dengan nurani yang terdidik, ia menjadi ibadah.
Menyambut Ramadhan sejatinya bukan hanya soal menyiapkan sahur dan berbuka, tetapi menyiapkan diri untuk belajar kembali—belajar jujur, belajar sederhana, dan belajar bertanggung jawab atas jejak yang kita tinggalkan di bumi.
Pada akhirnya, Ramadhan dan ekoteologi hanya bermakna jika keduanya dibaca melalui kejernihan nurani. Di sanalah kesalehan ritual dan kesalehan ekologis bertemu.
“Kekuatan bangsa pada akhirnya bertumpu pada hati nurani manusianya: terdidik, tercerahkan, dan bertanggung jawab.”




