• Login
No Result
View All Result
Kamis, Maret 26, 2026
fakta.pro
  • Home
  • Daerah
    • Provinsi Jambi
    • Kota Jambi
    • Tanjab Timur
    • Tebo
    • Batang Hari
    • Tanjab Barat
    • Muaro Jambi
    • Bungo
    • Kerinci
    • Sarolangun
    • Merangin
  • Nasional
  • Opini
  • Entertaiment
  • Politik
  • Sport
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Advertorial
www.fakta.pro
Home Opini

Merawat Rahmat di Sepuluh Hari Pertama Ramadhan

Februari 21, 2026
Merawat Rahmat di Sepuluh Hari Pertama Ramadhan
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Dr. Hj Fadlilah, M.Pd

Setiap Ramadhan tiba, yang berubah sering kali hanya jam makan dan jam tidur. Yang seharusnya berubah -cara kita bersikap – justru kerap tertinggal. Padahal sepuluh hari pertama dikenal sebagai fase rahmat. Rahmat bukan sekadar suasana meriah di masjid atau di layar gawai, melainkan proses melunakkan hati yang terlalu lama dibiarkan keras.

Allah berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat dalam ayat ini bukan emosi sesaat. Ia adalah cara hidup: menghadirkan kebaikan, menahan kerusakan, dan menciptakan ketenangan bagi sekitar. Maka ketika Ramadhan dibuka dengan rahmat, yang sedang diuji bukan hanya kekuatan fisik, tetapi kualitas sikap.

Puasa menahan lapar dan haus. Tetapi yang lebih sulit adalah menahan diri dari merasa paling benar. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Pesannya jelas: puasa tanpa perubahan perilaku hanyalah rutinitas biologis. Sepuluh hari pertama adalah masa pelatihan. Lisan ditata, emosi dikendalikan, dan kecenderungan reaktif diperlambat.

Di ruang publik hari ini, perdebatan sering lebih cepat daripada pemahaman. Komentar lebih deras daripada empati. Media sosial memberi ruang luas untuk bereaksi, tetapi jarang memberi jeda untuk merenung. Dalam situasi seperti ini, rahmat menjadi sangat relevan. Ia melatih kita berhenti sebelum menilai dan merendahkan diri sebelum mengoreksi. Tanpa rahmat, kebenaran mudah berubah menjadi alat untuk merendahkan orang lain.

Rahmat juga menyentuh wilayah empati sosial. Rasa lapar mengingatkan bahwa tidak semua orang berbuka dengan pilihan menu yang sama. Kesadaran ini bukan untuk sentimentalisme, melainkan untuk menumbuhkan tanggung jawab. Empati yang lahir dari puasa seharusnya membuat kita lebih adil dalam sikap dan lebih hati-hati dalam keputusan.
Di keluarga dan ruang pendidikan, rahmat hadir dalam keteladanan. Anak-anak tidak terutama belajar dari nasihat panjang, tetapi dari kebiasaan yang mereka saksikan setiap hari. Ketika orang dewasa mampu menahan emosi, berlaku adil, dan berbicara dengan hormat, di situlah proses karakter dibentuk.

Sepuluh hari pertama adalah fondasi. Jika rahmat berhasil menata hati, maka fase berikutnya bukan sekadar melanjutkan ibadah, melainkan memperdalam perubahan. Tanpa rahmat, Ramadhan mudah berakhir sebagai tradisi tahunan. Dengan rahmat, ia menjadi proses pendewasaan yang nyata.

Ramadhan pada akhirnya bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi seberapa jernih kita menjaga hati nurani. Dari hati yang terdidik itulah lahir keputusan yang lebih adil, relasi yang lebih sehat, dan tanggung jawab yang lebih matang.

“Kekuatan bangsa pada akhirnya bertumpu pada hati nurani manusianya: terdidik, tercerahkan, dan bertanggung jawab.”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED NEWS

SMK BLUD: Solusi Efektif Memutus Rantai Kematian SMK di Daerah

Membangun Masyarakat yang Berkarakter dan Berbudaya: Perspektif Era Global dan Digital

3 bulan ago
Raih Most Inspiring Tourism Leader 2025, Al Haris Tegaskan Komitmen Majukan Pariwisata Berkelanjutan

Raih Most Inspiring Tourism Leader 2025, Al Haris Tegaskan Komitmen Majukan Pariwisata Berkelanjutan

4 bulan ago
Bank Jambi Komitmen Perkuat Pembiayaan Sektor Produktif dan UMKM

Bank Jambi Komitmen Perkuat Pembiayaan Sektor Produktif dan UMKM

2 bulan ago
Dari Pantun untuk Jambi, Gerakan Hesti Haris Raih Rekor MURI

Dari Pantun untuk Jambi, Gerakan Hesti Haris Raih Rekor MURI

3 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Advertorial
  • Batang Hari
  • Bungo
  • Business
  • Culture
  • Daerah
  • Entertaiment
  • Hukrim
  • Kerinci
  • Kesehatan
  • Kota Jambi
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Merangin
  • Muaro Jambi
  • Nasional
  • National
  • News
  • Opini
  • Opinion
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politics
  • Politik
  • Provinsi Jambi
  • Sarolangun
  • Sport
  • Sports
  • Tanjab Barat
  • Tanjab Timur
  • Travel
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

2018 League Adver Advertorial Balinese Culture Bali United Batanghari Budget Travel Champions League Chopper Bike Dae Daer Daerah Doctor Terawan Ekonomi Hukrim Internasional Istana Negara Kota jambi Kuliner Life style Market Stories Nasional National Exam Olahraga Opini Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Tokoh Visit Bali Wisata
fakta.pro

© 2025 http://fakta.pro By.Group Arm

Navigate Site

  • Contact
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Kode Etik

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Provinsi Jambi
    • Kota Jambi
    • Tanjab Timur
    • Tebo
    • Batang Hari
    • Tanjab Barat
    • Muaro Jambi
    • Bungo
    • Kerinci
    • Sarolangun
    • Merangin
  • Nasional
  • Opini
  • Entertaiment
  • Politik
  • Sport
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Advertorial

© 2025 http://fakta.pro By.Group Arm

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In