| KERINCI | 6,90 |
| MERANGIN | 7,53 |
| SAROLANGUN | 8,35 |
| BATANG HARI | 7,94 |
| MUARO JAMBI | 4,05 |
| TANJUNG JABUNG TIMUR | 9,46 |
| TANJUNG JABUNG BARAT | 9,03 |
| TEBO | 5,18 |
| BUNGO | 4,90 |
| KOTA JAMBI | 6,94 |
| KOTA SUNGAI PENUH | 3,05 |
| PROVINSI JAMBI | 6,67 |
Berdasarkan metodologi Badan Pusat Statistik (BPS), sebuah daerah dinyatakan memiliki tingkat kemiskinan tertentu berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach).
Secara konsep, penduduk atau daerah dikategorikan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah Garis Kemiskinan (GK). BPS mengukur ketidakmampuan ekonomi ini melalui dua komponen utama penyusun Garis Kemiskinan:
1. Komponen Garis Kemiskinan Makanan (GKM)
Daerah dinilai miskin jika masyarakatnya kesulitan memenuhi nilai pengeluaran minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari. Kebutuhan ini diwakili oleh 52 jenis komoditi makanan utama (seperti beras, telur, ikan, daging, dan sayuran) yang paling banyak dikonsumsi oleh kelompok masyarakat bawah.
2. Komponen Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM)
Selain makanan, daerah dinilai miskin jika penduduknya tidak mampu membiayai kebutuhan dasar minimum non-makanan secara layak. Kebutuhan ini mencakup 47 hingga 51 jenis komoditi, antara lain: Perumahan (biaya sewa, kelayakan tempat tinggal), Sandang (pakaian), Pendidikan, Kesehatan,Transportasi dan kebutuhan pokok non-makanan lainnya.(Net)
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)




