fakta.pro – Jika berwisata atau berkunjung ke Ambon memang banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi.
Selain pantai Natsepa dan pantai Pintu Kota, wisatawan disarankan untuk berkunjung ke Desa Larike dan Desa Waai Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Ambon.
Disana wisatawan bisa melihat langsung ikan Morea, yang masyarakat setempat menyebutnya belut raksasa.
Ikan Morea sendiri dikenal sebagai ikon wisata dan hewan yang dikeramatkan.
Beberapa waktu lalu media ini sempat berkunjung ke Ambon. Dan menyempatkan berkunjung ke Desa Larike.
Dari tempat media ini menginap di Kota Ambon ke Desa Larike berjarak 45 km, memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan.
Sesampai di sana, sudah banyak wisatawan dari berbagai daerah terlihat sedang melihat belut Morea.
Disana, kita akan ditawari untuk membeli telur ayam. Telur itu untuk memberi makan belut Morea. Dan, biasa yang akan memanggil ada pawangnya.
Pawang tersebut berujar, belut Morea dikenal jinak terhadap manusia
“Tinggal di bawah bebatuan sungai yang terhubung ke laut, dan biasanya akan keluar dari persembunyiannya jika dipanggil oleh pawang,'” ucap sang pawang.
”Untuk memanggil belut Morea biasanya menggunakan umpan seperti telur ayam mentah atau ikan kecil,”imbuh sang pawang.
Ternyata benar, usai membeli beberapa telur ayam, sang pawang langsung turun ke kali dan memanggil belut Morea.
Tak berapa lama sejumlah belut Morea dengan ukuran besar menghampiri sang pawang. Dan melahap telur yang diberikan. Setalah habis telur ditangan sang pawang, perlahan belut-belut Morea itu pergi menuju sarangnya.
Informasi yang berhasil dihimpun, belut Morea panjangnya bisa mencapai 1 hingga 2,5 meter dengan berat belasan hingga lebih dari 30 kg.
Secara ilmiah Morea merupakan ikan sidat dari keluarga Anguillidae (atau terkait moray), memiliki sirip dan insang di sisi kepala, serta tubuh licin berwarna abu-kecokelatan.
Morea dikenal jinak terhadap manusia, tinggal di bawah bebatuan sungai yang terhubung ke laut, dan biasanya akan keluar dari persembunyiannya jika dipanggil oleh pawang.
Masyarakat lokal memegang kearifan adat untuk tidak menangkap, menyakiti, atau mengonsumsi morea karena dipercaya sebagai penjaga mata air (seperti di Sungai Waiselaka, Waai).(ono)




